Safe Space
- Raannniiii ..
- 21 Jan
- 1 menit membaca

Ada fase dalam hidup ketika seseorang tiba-tiba hadir tidak dengan janji.
Tidak juga dengan status. Bahkan mungkin tanpa kemungkinan yang jelas.
Namun entah mengapa, keberadaannya terasa penting.
Bukan karena ia sempurna, melainkan karena bersamanya kita merasa lebih jujur menjadi diri sendiri. Selayaknya cermin yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya dengan cara yang bijak dan cerdas.
Ia menjelma menjadi ruang aman sementara tempat kita menenangkan pikiran. Bersandar sejenak dari hiruk pikuk dunia yang kadang melelahkan, sebab Ia membuka sudut pandang baru yang membuat hidup terasa lebih lapang.
Namun Ia tetaplah bukan tujuan akhir, karena ada batas yang harus dihormati.
Ada keinginan yang tak selalu harus berujung pada tindakan.
Dan menghormati batas bukan berarti mematikan rasa.Justru sebaliknya, itu cara paling dewasa untuk menjaga diri tetap utuh.
āAku menginginkanmu, tapi aku tidak kehilangan diriku karenamu.ā
Ada rasa yang hadir tanpa perlu dikejar, tanpa perlu dimenangkan,tanpa perlu dipaksakan untuk berakhir bahagia. Rasa itu hanya.. ADA.
Tidak semua rasa harus langsung di eksekusi.
Ada review, ada jeda.Ada kebijakan sebelum menindaklanjuti, agar rasa itu tetap indah terpatri.
Pun tidak semua perasaan meminta keputusan,
Ada perasaan yang cukup diakui, cukup disadari, lalu diletakkan dengan hormat di tempatnya. Bukan karena tidak berani, tetapi karena terlalu sadar akan konsekuensi di baliknya.
Entah bagaimana ujung kisah ini.
Apakah takdir akan mempertemukan kembali atau justru perlahan memisahkan?
Satu hal yang pasti, tidak semua kisah harus dituntaskan untuk menjadi berarti.
Sebagian cukup dinikmati saat ini.
Cukup menjadi pengingat bahwa kita masih mampu merasa, tanpa harus kehilangan kendali. Dan terkadang, itulah bentuk cinta paling jujur yang bisa dimiliki oleh seseorang.
Jakarta, medio Januari 2026
Aku menulis tentangmu




